Suatu saat ketika aku masih sangat belia, 15 tahun. Mamaku sudah berhenti untuk mendongeng saat mengantarku pulas di pembaringan.
Bukan lantaran kehabisan cerita, tapi mungkin mamaku ingin memberi sesuatu yang berbeda buatku.
Dengan senyum manis yang selalu disediakan untukku, beliau bertanya kepadaku, "Nak,apakah sesuatu yang paling penting di tubuh kita?"
Aku yang masih muda dan sok tahu spontan menjawab, "Mata ma, dengan mata kita bisa memandang, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mata adalah anugerah termahal buat kita."
Mama memandang dalam ke arahku, masih dengan senyum itu, dengan suaranya yang lembut, juga belaian tangan halusnya di rambutku yang selalu mendamaikan hati, beliau berkata, "Bagus, anak mama sudah besar dan pintar. Tapi jawabanmu masih kurang nak. Di luar sana masih banyak orang-orang buta, mereka tidak bisa melihat, mata bukan sesuatu yang terpenting bagi mereka. Mereka masih bisa bertahan hidup dan selalu berbuat baik, meski mereka tidak dianugerahi mata yang sempurna."
Aku terdiam, berpikir. Dan membenarkan kata mamaku. Aku memeluknya.
"Tidak perlu terburu-buru untuk menjawabnya, cari tahulah dulu. Masih banyak waktu untuk memikirkannya.'' Ucapnya sambil mencium keningku, lalu kami berdoa dan mengucap selamat tidur.
Bertahun-tahun kejadian itu berlalu, tidak terasa sudah lima tahun. Aku menjadi remaja, mama tidak datang lagi ke kamarku. Aku datang ke kamarnya, dengan riang wanita yang kukasihi itu kusapa, "Selamat malam maa."
Beliau hanya tersenyum menjawab sapa riangku. Tubuhnya yang senja seperti kelelahan digeser berusaha untuk duduk, melambaikan tangan kepadaku. "Mari sini, duduk dekat mama. Kamu sudah besar, gantian dong yang bercerita sekarang. Ceritakan pengalamanmu seharian ini".
"Aku tidak hendak bercerita maa, aku ingin menjawab pertanyaan mama lima tahun yang lalu. Bagian terpenting di tubuh kita adalah telinga, semakin sering kita mendengar, semakin banyak ilmu yang kita dapat.'' Kataku penuh percaya diri, dan berharap jawabanku kali ini benar.
Lagi-lagi mama tersenyum,duuuh, senyumnya, aku rindu senyum itu, senyum tulus yang tidak pernah dilepas saat bertemu denganku, senyum yang selalu mendamaikan hatiku.
"Yaah,kamu benar telinga adalah bagian penting di tubuh kita, tetapi itu bukan yang terpenting sayang. Lihatlah! Masih banyak orang-orang tuli di luar sana. Mereka tidak bisa mendengar, tetapi mereka masih bisa berkomunikasi dan berbuat baik.'' Jawab mamaku.
Kembali aku terdiam, kecewa? Tidak!
Aku percaya dengan mamaku, beliau adalah orang yang sangat baik membimbingku, beliau adalah malaikat pelindungku.
Hari berlalu, bulan berganti tahun saat usiaku menginjak 23 tahun. Usia yang aku anggap dewasa. Sikapku berubah, aku jadi sok pintar, hehe aku ngomong juga seenaknya. Gak peduli anak kecil, teman sebaya, orang tua sekalipun. Bila gak bener atau gak sesuai keinginanku selalu aku nasehati, tak jarang juga mencemoohnya.
Saat usia 25 tahun, mamaku jatuh sakit, beliau terserang stroke, tubuhnya lemah, bicara juga tidak bisa. Aku sedih melihatnya. Aku menyadari kesalahanku, ucapanku selalu menyakiti perasaannya. Beliau selalu berpikir tentangku. Aku berpikir sebentar lagi mamaku meninggalkan aku, tapi jawaban atas pertanyaan mamaku belum benar aku jawab.
Kemudian di suatu kesempatan aku menyampaikan pada mamaku.
"Ma, aku ingin menjawab pertanyaan mama sepuluh tahun lalu. Dan jawabanku adalah, mulut. Dengan ucapan akan menjadikan kita baik, dengan ucapan akan membahagiakan atau membuat sakit orang, aku sudah membuktikannya."
Mamaku tidak bisa menjawab ulang jawabanku, dengan mata sayu beliau memandangku, bibirnya bergerak, tetapi tidak ada satu pun suara yang aku dengar dari bibir yang mulai kehilangan senyum itu. Lalu beliau memegang bahuku. Beliau ingin aku memapahnya keluar kamar. Dan kebenaran atas jawabanku menjadi misteri sampai hari kemarin.
Semalam aku bermimpi bertemu mamaku. Rasanya seperti nyata, senyum manis itu kembali aku lihat, wajahnya tenang, lebih anggun dari yang aku lihat saat terakhir kali sebelum beliau pulang menghadap Yang Maha Kuasa.
Kami bercengkerama, benar-benar seperti nyata. "Anakku sayang, Jawabanmu itu benar, tapi apa kamu tidak sadar? Saat itu kamu menjawab mulut adalah bagian terpenting di tubuh kita. Jawaban mama bukan! Bukan mulut bagian terpenting di tubuh kita. Lihat saja, saat itu mama tidak berkata apa-apa, mulut mama terkunci, banyak orang-orang bisu yang tidak bisa bicara, tetapi masih bisa berbuat baik, mama tidak meminta apa-apa darimu. Mama hanya meminta ''Kuatkan Bahumu'' Mama ingin bersandar di bahumu, memapah mama untuk berjalan keluar kamar saat mama sudah tidak kuat lagi menahan raga renta ini. Nak, sekarang kamu mulai mengerti bukan? Bagian terpenting di tubuh kita adalah ''Bahu'' Sediakan bahumu untuk menerima sandaran seorang sahabat dan orang-orang terkasih yang membutuhkan."
Mama, terimakasih aku bahagia dengan pertemuan ini. Dengan terjawabnya satu misteri yang telah engkau berikan, aku berharap sudah menyempurnakanmu ma.
Damailah selalu, ananda akan menguatkan bahu warisanmu. Menjadikan sandaran untuk sahabat-sahabat terkasih.
by : Dunia aksara
mesti terharu baca ini.. :3
BalasHapus