Su atu saat ketika aku masih sangat belia, 15 tahun. Mamaku sudah berhenti untuk mendongeng saat mengantarku pulas di pembaringan. Bukan lantaran kehabisan cerita, tapi mungkin mamaku ingin memberi sesuatu yang berbeda buatku. Dengan senyum manis yang selalu disediakan untukku, beliau bertanya kepadaku, "Nak,apakah sesuatu yang paling penting di tubuh kita?" Aku yang masih muda dan sok tahu spontan menjawab, "Mata ma, dengan mata kita bisa memandang, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mata adalah anugerah termahal buat kita." Mama memandang dalam ke arahku, masih dengan senyum itu, dengan suaranya yang lembut, juga belaian tangan halusnya di rambutku yang selalu mendamaikan hati, beliau berkata, "Bagus, anak mama sudah besar dan pintar. Tapi jawabanmu masih kurang nak. Di luar sana masih banyak orang-orang buta, mereka tidak bisa melihat, mata bukan sesuatu yang terpenting bagi mereka. Mereka masih bisa bertahan hidup dan selalu ber...
enak sih, tapi gak mau bagi bagi.